Template by:
Free Blog Templates

Sabtu, 12 November 2011

Puisi

Di bawah ini beberapa Puisi karyaku :



(Tanpa Judul)

Lihatlah aku...
Aku manusia tipis,
setransparan angin tanpa corak
Lihatlah mereka...
Yang begitu berkilau
Yang menggulung angin dengan api
Aku sebuah kegagalan,
keputus asaan yang layak dimusnahkan

Lihatlah aku...
Menikmati pedihku di ujung
sambil memandang langit yang sama
Rapuh, suaraku tertelan malam yang hitam legam
Lihatlah mereka...
Begitu bebas, lincah dalam keringanan, terbang mengitari hujan
Bagaimana daku...
buluku kotor, basah
Berat beta kepakkan sayap

Paparkan harapanmu ke langit
Maka kan kunodai langit itu dengan darah
Hingga mengalir deras menyelimuti
Disanalah aku,
Memanjat hujan menuju langit yang lebih tinggi
Sisik tua ini lepas, terlihat bak sayap
Simpan sisik itu dalam benakmu
Dendam dan tebas sayapku
Tuang dan curahkan seluruhnya
Kelak kita akan terbang berdampingan
Menjadi sayap yang saling menopang






Sunyi

Pernah bangunkah aku ?
Tak nampak wujud maupun mimpiku
Dimana kakiku melangkah
Hanya jalan setapak
Tersesatkah ?

Pergi. Pergi kalian dari jalanku
Ku sentakkan entah kalian ada atau tidak
Aku berjalan, meraba angin dengan ayunan
Aku menginjak, entah apa...
Tanah ataukan penderitaan

Kalian hanya bola mimpi
diam membeku di akalku
Hinggalah aku tenggelam dalam samudera kelam
Dengan karang merah dan biru
Atau mungkin itu disebut hitam
Kalian ku lukiskan, kalian disana
Hanya dalam tidurku
Memantul, membentur jalan lamaku
Yang kutanam jauh bawah sadarku

Pecah kini...
Ku genggam erat serpihannya, erat dalam genggaman
Kunikmati perih tusukannya
Perihnya kesunyian....





Debu

Debu-debu bertebaran
Menepi, meringkuk di ujung
Menanti, menyambut rinai hujan

Biarkannya basah terbalut air
Menggenang, Mengombak dan mengalir
Melebur bersama angin

Tersirat, terpental dan terpijak
Hingga menyatu dalam gelombang

Sekokoh karang namun terkikis
Yang lambat laun makin menipis

Andai ku debu yang melayang
Tak menumpuk,memukit di pojokan
Akanku bersahabat angin
Mengitari langit-langit malam

Bukan...
Bukan debu kosmik
Yang terbuang di aspal jalanan
Terpuruk, termakan hujan asam
Walau debu...
Ku bukan debu yang sekedar hitam





Gelap

Waktumu tak selalu mengalun
Waktumu tak kena diukur
Waktumu tak sanggup diulur
Waktumu tak kuat mengendur

Abad-abad berangin
Tahun-tahun berkabut
Minggu-minggu yang kusut

Malam-malamku kelam
Hitam legam
Mana terang yang kau saksikan, aku kesepian...
Setibanya seberkas cahaya
Padam juga, terhisap lubang hitam

Kini aku mengenalnya
Gelap
Bagai teman setia sebelum pagiku
Tak dapat kunikmati corak warna
Mereka enggan berbalik kembali
Menjauh, lalu pergi

Aku lelah bersandiwara
Berpura-pura
Senaif-naifnya batinku berkata
Hanya gelap yang menemani
Karna gelaplah yang mengerti





Embun
Matahari tak bertirai
Aku tergelincir
Ke tanah merah
Merangkak, mencari teduh
Rindang dibalut bayangan
Terpahat keheningan
Diwarnai suara desing
Serangga-serangga musim panas
Bergema tanpa sahutan
Mengendap...
Bergelombang bak sulur cahaya
Tak asing terdengar

Kulihat teman-temanku
Berserakan di halaman
Hingga kekeringan
Jadi sejarah
Aku takut...
Gelisah
Aku kesepian
Pada siapa kumohon perlindungan






Hujan Desember

Aku melihat dari jendela
Serpihan putih yang jatuh beruntun
Kulihat kembali dari jendela
Maya...
Kini kulihat dari jendela
Terpapar daun bersayap air
Keping-keping hujan melabuh
Melekat bersama debu
Aku letih...
Sebilah cahaya menusuk langit
Secarik warna terukir klasik
Akankah aku menanti
Menanti seperti pelangi
Setia...
Menunggu hujan mereda
Hujan...
Hujan malam...
Hujan Desember...






Biru

Andai 'Biru' itu sebiru langit
Yang sesak oleh serumpunan angin
Yang mencerai berai imajiku
Tuk tatap sosok agung nan anggun
Andai 'Biru' itu sebiru samudera
Yang menopang wadah kehidupan
Yang mengisi ruang hampa

Bukan sebiru dirimu...
'Biru' yang seputih kertas kusut
'Biru' yang sebening air mata
'Biru' yang semerah tinta darah
'Biru' yang sehitam desir aksara

Kanku lukiskan padamu...
Apa itu 'Biru'...
'Biru' yang sejernih cahya bulan
'Biru' yang seelok pancaran mega
'Biru' yang sesejuk paronama surga
Sedaya detik 'Biru'-ku masih berjarum






Tidak ada komentar:

Posting Komentar